Update Penanganan Banjir dan Longsor di Aceh, Sumbar, dan Sumut: Kementerian PU Kerahkan 100 Lebih Alat Berat dan Ratusan Personel Tanggap Darurat

Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum terus meningkatkan dukungan penanganan bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Seluruh unit organisasi teknis yang meliputi Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), Balai Wilayah Sungai (BWS), dan Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) di masing-masing provinsi terdampak telah dikerahkan untuk memastikan akses kembali terbuka, infrastruktur vital berfungsi, serta bantuan logistik dan layanan dasar dapat segera menjangkau masyarakat terdampak.

Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan seluruh jajaran untuk bergerak cepat mengirim bantuan ke lapangan sejak hari pertama bencana.

Menteri PU Dody Hanggodo menyampaikan penanganan bencana dilakukan secara terpadu dan percepatan pengerahan alat berat menjadi prioritas utama Kementerian PU sejak hari pertama menerima laporan terjadinya bencana.

“Dalam situasi darurat, kecepatan dan kolaborasi adalah kunci. Kementerian PU telah menggerakkan seluruh sumber daya mulai dari alat berat, personel teknis, termasuk dukungan logistik untuk membantu penanganan bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh,” kata Menteri Dody.

Penanganan bencana di Sumatera Utara dilaksanakan oleh BPJN Sumatera Utara bersama BBWS Sumatera II dan BPBPK Sumut. Banjir dan longsor melanda 11 kabupaten/kota, termasuk Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Dairi, dengan kerusakan terparah terjadi pada dua jalur strategis yang menjadi akses utama logistik.

Ruas Tarutung–Sipirok terdapat 49 titik longsor dan hingga 29 November pukul 20.00 WIB, sebanyak 14 titik telah berhasil dibersihkan. Selanjutnya ruas Tarutung–Sibolga yang terdampak 35 titik dan  penanganan telah mencapai 17 lokasi. Selain longsor, terdapat 17 titik jalan putus terdiri dari 13 kerusakan badan jalan dan 4 kerusakan pada jembatan atau oprit.

BPJN Sumut mengerahkan 38 alat berat yang sudah berada di lokasi dan 9 lainnya sedang dalam perjalanan. Sementara total kebutuhan penanganan sebanyak 52 unit, sehingga masih dibutuhkan tambahan lima alat berat untuk memperkuat pekerjaan di lapangan. Dukungan bahan bakar sebanyak 3.000 liter telah terpenuhi untuk kebutuhan operasional satu hari ke depan, sedangkan suplai berikutnya terus disiapkan secara bertahap.

Kementerian PU juga menyiapkan material penanganan darurat seperti geobag, sheet pile, dan jembatan bailey. Hingga saat ini, akses darat menuju Kota Sibolga dan wilayah Tapanuli Tengah masih terhambat, sementara komunikasi hanya dapat dilakukan melalui jaringan satelit Starlink yang dipasang instansi terkait.

BBWS Sumatera II memperkuat penanganan dengan mengirim 2 unit excavator, 2 perahu karet, serta bantuan bahan banjir untuk kebutuhan darurat. Pembukaan akses Tarutung–Sibolga telah mencatat progres 28 titik, sementara akses Tarutung–Sipirok juga mulai terbuka dengan selesainya penanganan pada satu titik kritis.

Selain itu, BBWS melakukan pembersihan material longsor di Humbang Hasundutan dan membantu evakuasi warga yang terjebak genangan banjir di Kota Medan menggunakan dua perahu karet. Bantuan kemanusiaan berupa 50 selimut, kasur, dan paket sembako juga telah disalurkan.

Di Provinsi Aceh, penanganan terpadu dilakukan oleh BWS Sumatera I, BPJN Aceh, dan BPBPK Aceh dengan pengerahan 31 alat berat. Fokus penanganan pada titik-titik longsor, wilayah banjir terparah, penyediaan layanan dasar air bersih, sanitasi darurat, dan dukungan logistik.

BPBPK Aceh juga telah memobilisasi 6 unit mobil tangki air, 3 unit dump truck, 1 truk penyedot tinja, 2 mobil toilet portable, 1 unit double cabin, 5 tenda hunian darurat, 10 velbed, 2 genset 2,5 kVA, 5 unit toilet portable tambahan, 30 hidran umum, serta 7 tangki biofilter berkapasitas dua meter kubik.

Dukungan tim tanggap darurat telah digerakkan menuju kawasan pantai timur Aceh yakni wilayah Pidie Jaya dengan pengerahan 5  personel, 10 unit hidran umum beserta kaki HU yang seluruhnya sudah terisi air, serta 2 unit mobil tangki air. Di Kabupaten Pidie, 5 personel tambahan juga dikirim bersama 1 truk, 5 unit HU, dan 2 mobil tangki air. Tim juga bertugas di Bireuen dengan 5 personil, 1 truk, 3 unit HU yang telah terisi air, serta 2 mobil tangki air untuk menunjang suplai kebutuhan warga.

Di Sumatera Barat, penanganan cepat telah dilakukan BWS Sumatera V, BPJN Sumbar, dan BPBPK Sumbar dengan total 38 alat berat untuk menangani dampak banjir dan longsor di Padang, Padang Pariaman, Agam, Solok, Pesisir Selatan, Tanah Datar, Pasaman, Padang Panjang, dan Solok Selatan.

Di Kota Padang, penanganan dilakukan di 16 lokasi yang meliputi pengerukan sedimen dengan excavator long arm di intake PDAM Kampung Koto, pengoperasian dua unit pompa bergerak untuk mengurangi genangan di Ulak Karang Utara, serta pengaktifan stasiun pompa banjir di kawasan tersebut.

Pengerukan sedimen juga dilakukan di Koto Tangah Batang Aia Dingin, Gurun Laweh–Nanggalo, Jalan Ombilin Kampung Lapai, intake Unand Limau Manis, dan intake Gunung Nago. Selain itu, BWS Sumatera V mengirim 4 excavator standar dan satu long arm untuk penanganan tambahan di Palukahan Gadang, Tabing Banda Gadang, Bendung/Check Dam Gunung Nago, Balai Gadang, dan intake Gunung Pangilun Nanggalo.

BWS Sumatera V juga memenuhi permintaan darurat dari Universitas Andalas dengan mengirim alat berat serta pipa pengganti sepanjang 70 meter untuk memulihkan suplai air baku ke Kampus Unand dan RS Unand. Di Padang Pariaman, penanganan mencakup normalisasi muara Batang Ulakan dan pembersihan material longsor di saluran induk DI Batang Anai.

Sementara itu, di Agam dikirim satu unit excavator standar untuk pembersihan material banjir di beberapa titik. Kemudian penanganan di wilayah Solok dan Kota Solok mencakup 12 lokasi, dengan dukungan 250 bronjong serta pengerahan excavator untuk memperbaiki alur sungai di daerah Selayo Batang Gawan, Paninggahan Batang Paninggahan, dan Batang Saniang Baka.

Di Kabupaten Pesisir Selatan, bantuan 160 geobag telah disalurkan, sementara di Tanah Datar BWS mengirim satu excavator standar dan 200 bronjong untuk normalisasi Batang Malalo. Untuk Kabupaten Pasaman, direncanakan pemasangan bronjong sepanjang 300 meter guna menahan laju erosi.

Di Kota Padang Panjang, disalurkan bantuan 100 geobag dan BPJN Sumbar juga mengerahkan dua wheel loader. Adapun di Solok Selatan, pembersihan sedimen banjir dilakukan secara bertahap di daerah yang alur sungainya terganggu. (Risky)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *